traveling – menyusuri keindahan budaya dan cerita di Jogjakarta

Beberapa waktu yang lalu, di akhir pekan saya kembali mengunjungi Kota Gudeg alias Jogjakarta. Keberangkatan ke kota ini tidak terencana karena ada beberapa hal yang harus diselesaikan.

Seperti biasa kereta api membawa saya dengan lajunya menuju kota gudeg tersebut. Lodaya pagi menghantarkan saya menuju Stasiun Tugu pagi itu. Ditemani alunan lagu musisi asal Jogjakarta, dengan instrumental musiknya gardika gigih pradipta.

2016_1210_07011700.jpg
Train Station
kita kan naik kereta yang sama – by gardika gigih pradipta

Kereta api selalu membawa aroma dan suasana tersendiri untuk saya. Baik kereta api eksekutif maupun ekonomi sekalipun. suara mesin kereta api dan lajunya kereta api selalu membawa kerinduan untuk kembali berperjalanan dengan kereta api.

Siang hari tepat pukul 3, setelah berperjalanan selama 8 jam kereta api pun tiba di Stasiun Tugu Jogjakarta. Udara panas khas kota gudeg menyengat kulit saya yang tertutup baju hitam siang itu.

Sama sekali tidak ada rencana untuk mengunjungi tempat-tempat di Jogjakarta kali ini, karena memang tujuannya untuk menyelesaikan beberapa hal di Jogja. Seperti biasa, ketika berkunjung ke Jogja saya selalu memilih untuk menginap di tempat yang menurut saya nyaman dan juga murah.

Motor mas gojeg yang sudah saya pesan mengarah ke arah jalan Let Jen Suprapto. Tidak begitu jauh dari lokasi malioboro, motor mas gojeg berhenti di homestay tempat biasa saya menginap. Edu Hostel Jogja, memiliki konsep penginapan Dormitory dan memiliki rate kamar yang cukup murah bagi Backpacker atau Traveler.

Rooftop Edu Hostel

Dengan merogoh uang di kantong sebesar Rp. 80.000 kita sudah mendapatkan 1 bed plus voucher breakfast. Konsep edu hostel sendiri adalah satu kamar dengan fasilitas 6 bed dan 6 lemari. Untuk kamar pria dan wanita terpisah (tidak seperti dormitory di luar negeri yang kadang-kadang 1 kamar untuk pria dan wanita).

Pemandangan dari rooftop edu hostel pagi hari juga sangat indah. Pemandangan Gunung Merapi terlihat dari kejauhan.

Jogja, cantik nan berbudaya.

Kedatangan saya kali ini yang sekejap mata di Kota Gudeg mengarahkan motor saya dan ketiga orang teman saya ke satu sudut Kota Jogja yang beberapa tahun lalu sempat saya datangi.

Kota Gede, kawasan tua atau klasik di salah satu sudut Kota Jogja yang sarat akan budaya dan sejarahnya. Sebenarnya amat sangat banyak kawasan bersejarah dan berbudaya di Kota Jogja, namun kali ini saya memilih menyusuri kembali kawasan Kota Gede.

Double exposure – Pintu Masuk Mesjid Agung Mataram

Mesjid Agung Mataram, tersirat beberapa sejarah dari Mesjid Agung Mataram di Kota Gede ini. Mesjid Agung Mataram sendiri adalah salah satu bagian dari kerajaan islam yaitu Kerajaan Mataram yg sangat besar. Bangunan di kota gede ini hanyalah secuil dari masa kejayaan mataram. Bisa dilihat dari sisa hari makam raja, masjid dan pemandian.

2016_1211_09373400.jpg
Menuju ke Pemandian
Bapak mengantar Tamu yang akan mengunjungi Makan Raja Mataram

Ketika VOC mengusai mataram, Kota Gede merupakan salah satu lumbung perdagangan VOC dan dibuatlah rumah gadai untuk masyarakat disekitar Kota Gede yang sekarang dikenal dengan Rumah Kalang.

Lorong

Rumah Kalang adalah satu jenis rumah khas di Kota Gede yang dimiliki oleh orang-orang Kalang atau Saudagar. Rumah kalang adalah rumah tradisional jawa dengan sentuhan arsitektur yang megah. Tidak semua orang dapat mengunjungi rumah kalang, hanya tamu khusus untuk si empunya saja yang bisa mengakses dan bertamu ke dalam rumah kalang. Oleh karena itu Rumah Kalang tidak dibuka untuk wisata umum.

Arsitektur Rumah Kalang

Salah satu hal yang menarik dari Kota Gede adalah bangunan-bangunan tua yang berderet sepanjang jalan hingga ke jalan-jalan kecil yang ada di Kota Gede. Bangunan-bangunan tersebut juga sarat akan sejarah yang ada.

Ditengah akses jalan masuk menuju Mesjid Agung Mataram Kota Gede saya menemukan tempat yang ternyata selama ini amat sangat terkenal di ranah media sosial. Berbeda sekitar tahun 2010-an yang lalu ketika saya mengunjungi kawasan kota gede. Tempat tersebut hanya sekedar jalan akses masuk menuju kawasan Mesjid Agung Mataram. Memang disisi jalan tersebut berdiri rumah kuno dengan pintu-pintu kayu etnik khas dengan ukiran jawanya.

Pintu Hits Kota Gede, begitulah nama terkenalnya. Setiap wisatawan yang berkunjung ke Kota Gede dan terutama pecinta fotografi kemungkinan besar sudah mengunjungi lokasi ini karena memang angle untuk pengambilan fotonya sangatlah cantik dan minimalis. Dengan background pintu kayu dan pepohonan rambat yang menjalar disampingnya. Untuk hanya sekedar mengabadikan foto, para wisatawan yang sedang mengunjungi Kota Gede rela mengantri untuk mengambil foto di spot tersebut.

Pintu Sejuta Umat
Antimainstream – Fotonya disebelahnya aja deh ~
Potrait – Anak anak bersepeda di jalanan Kota Gede

Kebetulan sekali, hari itu saya kurang berminat untuk mengabadikan foto di spot sejuta umat tersebut, karena menurut saya sudah terlalu mainstream, hahaha.

Satu referensi bagi saya saat ini, jika berperjalanan – traveling – atau backpacking hiasilah perjalanan dengan sebuah pengetahuan dan pembelajaran. Bagi saya berperjalanan – traveling – bacakpacking  bukan hanya sekedar kabur dari rutinitas yang menjenuhkan, bukan sebatas merefresh kembali otak yang sudah penat, tapi menghiasi diri dan wawasan dengan hal-hal baru yang ditemukan selama berperjalanan.

Semoga perjalanan kalian pun bisa menyenangkan, menyehatkan sekaligus memperluas wawasan.

Salam ~

Tinggalkan Balasan