brutal torture sadistic – separuh jiwaku tertinggal dirumah kedua – bromo tengger semeru – sampai jumpa tahun depan~

“setapak jalan yang sudah biasa dilewati dengan mendaki pun terasa sunggu berat saat berlari, karena semuanya diburu waktu…”

BTS Ultra 100?

img_20161104_163521
prepare

BTS Ultra 100 atau Bromo Tengger Semeru Ultra 100, sebuah event tahunan yang sungguh sangat familiar ditelinga. event yang selalu diadakan setiap tahunan dan selalu menyita perhatian pelari-pelari trail baik dari indonesia sendiri maupun dari luar negeri. Dengan kategori 170K, 102K, 70K dan 30K, setiap tahunnya selalu diramaikan oleh ratusan pelari yang berpartisipasi.

Race Fees (IDR – Rupiah)
Category Indonesian Only
Early Bird Regular
170KM 1.100.000 1.300.000
102KM 800.000 1.000.000
70KM 700.000 850.000
30KM 350.000 500.000

tahun ini BTS Ultra 100 menyita sekitar 500 an partisipan dari 4 kategory tersebut. seperti biasa, wajah-wajah familiar dari pelari pelari yang biasa mengikuti trail running muncul di event ini. senangnya adalah bisa bertemu teman teman dari berbagai kota yang sebelumnya bertemu di race-race trail running juga.

BTS 70K

setelah menjajal trek 30K tahun lalu, tahun ini saya mencoba menjajaki trek 70K. beberapa bulan lalu saya mendaftarkan diri sebagai peserta BTS Ultra 70K. dengan trek ASLI yang sempet di skip tahun lalu karna semeru sedang ditutup karna cuaca kurang baik tahun lalu.

bts2016-70k-map
course maps BTS 70K
bts2016-70k-gain
elevation and distance bts 70K

dengan persiapan yang menurut saya “cukup” matang, ditengah kesibukan keseharian, saya begitu mantap untuk mengikuti kategory 70K. dengan pelajaran tahun sebelumnya di trek 30K yang otomatis dilewati oleh trek 70K juga, dan dengan trek jalur-jalur Semeru yang sudah begitu melekat didiri saya karna saya anggap semeru adalah rumah kedua saya, saya semakin mantap mengikuti kategory 70K. tidak terlepas dari rasa deg-degan juga sih menjelang hari H race, karena alam pegunungan tidak bisa ditebak.

akhirnya hari itu datang juga, saya kembali lagi ke Bromo, Lava View Lodge tepatnya, untuk pengambilan racepack.

img_20161104_135232_1478242370183
BIB + pemandangan semeru menuju senja

setelah pengambilan racepack, saya segera kembali ke homestay untuk persiapan perlengkapan nanti malam. kedatangan saya disambut gerimis kabut khas bromo. udara dingin dan angin sepoi2 yang membelai tubuh saya mengiringi rasa deg-degan saya untuk memulai race nanti malam.

saltstick, makanan ringan, obat-obatan, jas hujan, headlamp dan segala persiapan saya check ulang dan kemasi sore itu, persiapan sebelum pengecekan mandatory gear nanti malam sebelum start. setelahnya saya sedikit melepas lelah ditengah udara dinginnya bromo, tidur menjadi pilihan saya sore menuju malam itu. tidak begitu panjang hanya 3 jam sebelum start.

bromo tengger semeru , lava view lodge 22.30

img_20161104_234547
Obam – saya – herdie – digit
1478406297206
Start Line beberapa saat sebelum start

tepat jam 9 malam, kami mulai bersiap siap, mandi berkemas dan menggunakan seluruh atribut lelarian kami, dan kami pun berjalan menuju lava view lodge, sambil sedikit pemanasan.

“mbak emergency blanket? headlamp? jashujan? obat2an?..” kata mas mas yang melakukan pengecekan mandatory gear di lava view lodge.

“ada mas semua..check list beres”

waktu menunjukkan pukul 23.00, sambil mengobrol dan persiapan kami sembari melakukan pemanasan ringan, tidak lupa dibuka oleh secangkir kopi reramean untuk menghangatkan badan.

pelari kategory 102 dan 70K mulai banyak berdatangan, bergerombol atau sendirian. mereka pun melakukan pemanasan ringan seperti yang kita lakukan.

peserta 102 dan 70K diharapkan bersiap siap didekat garis start.. seru mas mas panitia race dari jauh.

kami pun segera mendekati garis start sambil masih melakukan pemanasan ringan.

seperti biasa, setiap race Lagu Indonesia Raya dengan hikmatnya selalu dilantunkan, haru.. lalu hitungan mundur 10…9…8…7…6…5…4…3…2…1… Startttt..

selamat datang kembali kerumah dengan jarak 70 kilometer didepan sana.

suara riuh melepas keberangkatan kita dini hari itu, dengan disambut tanjakan dan udara dingin yang cukup menembus jaket saya, saya perlahan berlari ditanjakan ditemani cahaya headlamp dikepala.

trek yang sudah cukup familiar bagi saya, seperti tahun lalu, hanya bedanya saat ini saya berlari malam hari, dan sebenarnya saya sangat anti melakukan perjalanan malam hari, karna jujur saja fokus berkurang jika perjalanan malam hari.

tanjakan panjang, lalu turunan, berbelok ke kanan kekiri, kembali datar, lalu kami masuk ke turunan panjang. dibelakang saya ada mbak ayu dari semarang runner dan digit teman saya dari indorunners bandung. kami bersaut sautan mengabsen khawatir terpaut terlalu jauh. turunan panjang, lalu kami masuk ke savana bromo, di pandu marka bendera merah putih dan lampu berwarna kuning. dari kejauhan di atas sana sudah terlihat kerlap kerlip headlamp, dimana kita.. selamat datang di B29.

tanjakan b29, jemplang, desa ranu pane, Selamat datang kembali di Semeru

perlahan lahan saya menapaki b29 tanpa berlari, karna b29 adalah tanjakan yang cukup menguras tenaga. bermodalkan headlamp dan trekpole saya terus bergerak keatas. sekali kali berhenti menghela nafas. sayangnya hari itu kebetulan saya “kedatangan tamu bulanan” yang sebenarnya cukup menguras tenaga, tapi ah hanya sugesti saja pasti bisa kok, ucap saya dalam hati.

b29
b29 pagi hari. malam hari? silahkan bayangkan sendiri kak hehe

terus menanjak perlahan menghabiskan tanjakan b29 akhirnya setelah 1 jam saya sampai ke WS 1, mengisi ulang air minum. “mbak,, jalannya landai tapi licin hati hati ya..” ujar mas penjaga WS jemplang. selamat datang di jemplang. headlamp saya setel ke cahaya yang lebih besar karena kabut datang cukup tebal dan cahaya headlamp memantul sehingga jarak pandang tidak begitu jauh.

jalur jemplang tahun lalu sangat berbeda dengan tahun ini, treknya semakin jelek. lalu penuh lubang akibat motor yang sering melintas kesana, dan banyak genangan didalam lubang tersebut. ekstra hati hati dan tidak bisa berlari.hanya jalan cepat satu satunya pilihan malam itu. jam menunjukkan pukul 02.30 dini hari, jalur hutan jemplang terasa sangat panjaaaaaaang sekali, kangen aspal kemplang deh rasanya.

jarak pelari malam itu terpaut cukup jauh, oleh karena itu saya menyesuaikan diri dengan pelari depan dan belakang untuk menghindari sendirian di jalur tersebut.

akhirnya sekitar pukul 03.30 saya keluar dari hutan jemplang.

“7015 masuk..” sambut reza teman saya jadi bandrex yang bertugas malam itu.

saya langsung melanjutkan perjalanan menuju jalanan aspal yang menurun, kabut semakin tebal, cahaya headlamp semakin minim jarak pandang. sesekali saya melewati dan dilewati pelari. dan sempat beberapa kali mengobrol dengan pelari makasar dan akhirnya bertemu mas mas surabaya yang sering sekali saya temui setiap race trail, “ayok neng aku ndisikan, udah telat dari perkiraan iki.. sautnya”.

sekitar jam 4 saya masuk ke WS 2 , desa ranu pane.

“mbak roro… ikut juga to??..”

lha malem malem gini masih ada yang ngenalin saya, ujar saya dalam hati.

ternyata wanda teman lama saya mendaki.

“eh wan.. iya nih.. doain yaa..” ujar saya. “7015 check in, monggo mbak air putih nya diisi ulang ada air panas juga sama milo dan nescafe, kata mbak mbak pencatat waktu di WS 2”

tidak lama di WS 2 saya langsung check out sekitar pukul 4 lebih 5 an.

lalu berjalan cepat menuju Ranu Pane. udara khas dan desa yang begitu familiar dimata saya, ranu pane, selamat dataang. kembali berlari menyusuri perkebunan, dan tanjakan menuju Landengan Dowo, lalu menyusuri Landengan Dowo dengan berlari ringan, masih bersama mas mas surabaya yang saya lupa namanya, hehee.

rasanya lelah sudah menghujam tubuh saya, beberapa biji kurma saya kunyah sambil setengah berlari. pos 1 lalu saya abaikan lanjut ke pos 2, Watu Rejeng jalur khas bebatuan. pos 3 sebelum tanjakan setan. “mas aku duluan ya, nyambi, nanti juga pasti kamu nyusul saya.. ujar saya sama si mas mas surabaya”

tanjakan saya lewati perlahan konstan. lalu jalanan landai menuju Ranu Kumbolo. sepanjang jalan saya mbrebes mili, rasanya lelah saya sudah di ubun ubun, 6 jam sudah saya berlari menyusuri trek, lalu saya harus berusaha sampai di Kalimati sebelum COT / Cut Off Time jam 08.30 nanti.

Ranu Kumboloooooooooooo, tepat jam 6 lebih 5 saya sampai di WS 3. cairan elektrolit lah yang pertama saya cari, lalu saya bekal untuk perjalanan selanjutnya.

“mbak saya langsung check out ya” “7015 check out… sambut si mbak penjaga WS”

seperti rute pendakian yang sering saya lewati, tanjakan cinta lalu menyusuri oro oro omb, dan memasuki hutan cemoro kandang. sesekali saya melihat jam, pukul setengah 7, saya rasa masih nutut sampai ke Kalimati sebelum jam 08.30.

lutut saya mulai meraung sesampainya di cemoro kandang. beberapa kali saya berpapasan dengan pelari yang sudah turun dari Kalimati.

ayooo aninn semangat,, sambut iruh..

lalu beberapa lagi pelari pelari yang juga teman saya berpapasan dengan saya,baik dari kategory 102 atapun 70.

tanjakan cemoro kandang juga bukan tanjakan main-main, menuju jambangan terasa jauhnya bukan main, sendirian, karna kebetulan kemarin jalur pendakian semeru tidak terlalu ramai karna bukan long weekend. akhirnya Jambangan.. jam setengah 8 lebih 10 saya sampai di jambangan.

biasanya saya di jambangan dengan menenteng kerir yang segede gaban, haha hihi dulu sambil makan semangka dan gorengan, lalu foto foto mahameru dari kejauhan. kali ini saya harus sangat buru buru.

kembali saya berlari, sambil berkata sendiri kepada lelah dan lutut yang sudah mulai meraung, sebentar lagi kalimati kok, kalian harus kuat ya.

Kalimati 08.00

“mbaaaak aniiinnn ayookk cepet diambil gelangnya trus kita lanjut lagi”, sambut herdie yang sudah lebih dulu sampai Check Point 4 Kalimati.

akhirnya jam 8 tepat saya sampai Kalimati dan under COT , segera saya ambil gelang di check point. lalu beristirahat sembari jalan dan menikmati mahameru dari jauh. sempat berfoto bersama teman teman yang sudah lebih dahulu sampai di kalimati.

DCIM101GOPROGOPR3348.
herdie – mas wahyu dan sam yang udah sampai lebih dulu di kalimati
img_20161106_042413
Akhirnya kalimati under cot 08.00
35128696-8300-4783-b232-dadbfdb6c7a8
Alhamdulillah kita under cot di Kalimati 😀

setelah beberapa saat menghela napas dan beristirahat kami melanjutkan berlari lagi. kembali ke Ranu Kumbolo.

saat turun kembali, saya berpapasan dengan pelari yang masih berusaha mengejar cot di Kalimati. semangat mbaak, mass.. satu kata untuk mereka sangat berarti karna mereka akan kembali berjalan cepat ataupun berlari kembali setelah disemangati. saya baru benar benar merasakan rasanya power of semangat disini.

cemoro kandang siang itu sepi, tidak seperti biasanya banyak pendaki yang beristirahat di bawah pepohonan rindang. saya berlari menyusuri hutan cemoro kandang, menuju warung si bapak untuk semangka yang kesegarannya tiada dua.

img_20161105_085745
kesegaran hakiki
img_20161105_085753
wajah fresh menipu padahal lelah, terima kasih semangka haha

jam menunjukkan pukul setengah 10, saya kembali berlari menyusuri oro oro ombo, lalu menyuruni tanjakan cinta dan akhirnya kembali ke ranu kumbolo, bertemu kembali dengan mas wahyu, herdie dan sam yang masih beristirahat di ranu kumbolo. pop mie dan gorengan sempat saya lahap di rakum sambil beristirahat.

“mbak 7015 check out lagi ya..” sambil mengisi air putih ujar saya pada mbak mbak penjaga WS.

15 km kedepan mulai dari savana teletubies dan jalur ayek ayek tidak akan ada WS.

kami pun kembali berlari menanjaki jalur pinggir ranu kumbolo, lalu memasuki savana teletubies sebelum masuk ke jalur ayek-ayek.

saya ingat betul terakhir kali saya melewati jalur ayek-ayek 5 tahun yang lalu. saat ini jalur ayek ayek memang bukan untuk jalur umum karna hanya digunakan untuk jalur evakuasi. jalur ayek ayek menanjak konstan, batuan yang menjadi gerabng adalah penanda habisnya tanjakan ayek ayek dan itu masih cukup jauh.

di tengah jalur ayek ayek rasa kantuk mulai menyerang. apadaya, saya harus memaksakan diri beristirahat, tidur 5-10 menit di pinggir jalur kembali bersama si mas mas surabaya dan mas mas malang. dipaksakan terus berjalan cepat pun kondisi tubuh tidak akan stabil dan pasti gerakan semakin melambat. setelah fresh sedikit saya melanjutkan kembali berjalan cepat bersama si mas mas dari malang sambil mengobrol. tibalah saya di puncak ayek ayek.

“omaygaaatt.. this is fucking rute..” ujar dua orang bule yang baru sampai dan sedang beristirahat di atas batu.

“memang om, jalur ayek ayek pendek tapi dahsyat” ujar saya dalam hati.

come on.. sapa saya kepada 2 bule tersebut sambil berlari menuruni jalur ayek ayek. rasanya dengkul saya sudah mulai aus, haha. dihajar tanjakan lalu turunan.

jalur ayek ayek cukup panjang juga sebelum sampai di desa kembali.

jalur pipa warga yang tersohor dengan kesadisannya.

jalur pipa adalah jalur yang akan kita lewati setelah itu. saat ini saya berjalan sendirian karna si mas mas malang dan surabaya tertinggal di belakang. patokan saya hanya mas mas di depan, yap mas sheva dari madiun bersama teman yang sudah terlebih dahulu di depannya mbak ping. menyusuri desa, masuk hutan yang sepertinya baru di bersihkan kembali jalurnya, masih banyak pohon bambu, lalu sampailah di tanjakan yang super dahsyat menanjak sekitar 2/3K lalu kembali di hadapkan dengan turunan dahsyat dengan pipa pipa yang sudah tertimbun tanah. bermodalkan webbing yang terpasang di jalur tersebut kita perlahan lahan menuruni jalur tersebut dengan telaten. entah sudah seperti apa kotor di baju, karna saya memilih ngesot menggunakan pantat karna jika berjalan khawatir tersandung dan terjatuh.

saya kira setelah jalur pipa habis akan langsung di temukan dengan jalur aspal jempang ternyata saya salah.

kita masih memasuki desa demi desa , perkebunan demi perkebunan, panjang kira-kira 5-6K. jika kalian ke bromo bisa lihat sebelah kanan jalan dibawah adalah desa ngada itulah desa yang kami lewati berliku liku. akhirnya kita mendengar suara kendaraan sayup-sayup dari jauh, yaaapp jalanan aspal jemplang, akhirnya..

“mbak mas 2 kiloan lagi ya menuju jemplang..” ujar bapak yang ada di jalanan tersebut.

yap betul 2-3 kilo kita lewati dengan menanjak. saya sudah kangen WS 5 rasanya ingin segera minum.

tanjakan panjang saya lewati dengan perlahan begitu juga dengan pelari lainnya, berjalan cepat, saya rasa untuk berlari pun kami sudah kurang sanggup.

WS 5 Jemplang dan Alarm untuk segera menyelesaikan 16 kilometer lagi di lautan pasir.

“ayo mbak sini tak bantu isi ulang air minumnya. kalo kamu mau lanjut harus sekarang di push, kecuali kalo setengah 3 tadi sampek sini, kalo sekarang kamu harus benar benar push di bawah sana, atau mau di evak nunggu kendaraan dari sini jam setengah 4 nanti.” kata si mbak di WS 5.

setelah air terisi penuh dan 1 buah bakpau yang saya bawa, saya melanjutkan perjalanan kembali berlari.

jam 3 kurang 10 saya memulai kembali berlari menyusuri jalanan aspal jempang yang tahun ini sudah diperbaiki, lalu mulai berlari di savana bukit teletubies. udara tidak begitu panas, lautan pasir pun tidak begitu berdebu.

lalu saya terus berusaha setengah berlari dan berjalan cepat, tetiba hujan datang. terpaksa saya harus mengeluarkan goresek alias jas hujan keresek. walaupun sebenarnya cukup pengap.

masih terus menyusuri pasir berbisik, masuklah kami kejalur tebing-tebing akibat erupsi bromo. berbeda dengan tahun lalu, jalur pasir berbisik tahun ini lebih dahsyat, tebing demi tebing kami lewati, lalu menanjak drastis dan menurun. pasir yang padat agak sedikit menghambat ketika turunan.

1478483151559
Imam berusaha menuruni trek pasir berbisik
1478483154508
obam masih terus menapaki jalur tanjakan pasir berbisik

kira – kira seperti inilah jalur disana. berbeda dengan tahun lalu. rasanya saya hanya melewati 3 bukit dan menuruni 1 bukit. tahun sekarang rasanya begitu panjang, karena ini adalah trek asli yang sebenarnya dalam rute bts ultra 100.

screenshot_2016-11-08-17-00-26_com-instagram-android
jalur pasir tahun lalu

jam menunjukkan pukul 16.30 waktu itu, saya dan beberapa pelari lain masih berkutat dengan trek pasir yang agak harus ekstra hati hati. trek yang harus kami lewati tinggal tanjakan menuju tangg akawah bromo lalu menyusuri trek pasir kembali untuk kembali ke finish line.

saya rasa waktu sudah terlalu mepet untuk menyusuri tangga kawah bromo. akhirnya saya dan beberapa pelari lain memutuskan untuk langsung menyusuri lautan pasir. jam menunjukkan pukul 17.30. beberapa tukang ojek menghampiri kami, menawari jasa pengantaran sampai ke lava view. tapi kami tetap memilih menyelesaikan dengan berjalan cepat saja untuk kembali kesana.

matahari sudah mulai tenggelam, hari mulai gelap kami masih memilih untuk terus berjalan cepat selangkah demi selangkah sampai akhirnya kami sampai di aspal jalanan menuju lava view lodge.

tepat pukul 18.30, saya dan beberapa pelari terakhir sampai di finish line alhamdulillah dengan selamat tanpa kekurangan sesuatu apapun. setelah 18 jam 30 menit berlari, berjalan cepat, menanjaki, menuruni, ngesot ngesot sepanjang trek.

walaupun tahun ini kembali terulang seperti tahun kemarin, OVER COT 30 menit dari COT yang seharusnya, tapi saya merasa lega sudah bisa menyelesaikan apa yang saya mulai dengan sebaik mungkin.

Saya selesaikan sampai akhir, sampai kembali ke Finish Line dengan segala kemampuan dan tenaga yang saya punya. Semoga tahun depan bisa lebih baik lagi.

img-20161106-wa0015.jpg
Finish Line 18.30

apa yang kamu cari dari trail running?

berlari di hutan atau trail running menurut saya merupakan sesuatu yang harus dipersiapkan dengan matang dan sungguh-sungguh, baik peralatan, fisin maupun mental.

dari lelarian kemarin begitu banyak pelajaran yang bisa diambil.

pelajaran bahwa masih ada yang mementingkan ego tanpa menghiraukan satu sama lain untuk mengejar sesuatu yang ingin dikejar. tetapi masih banyak juga yang bisa meredam ego dengan menghiraukan satu sama lain untuk saling membantu diperjalanan.

pelajaran bahwa kita harus mengenal betul bahasa tubuh kita, dimana kita harus berhenti dan dimana kita harus kembali berlari sekuat tenaga.

pelajaran bahwa manajemen waktu adalah sesuatu yang sangat berharga disaat berlari di alam.

pelajaran bahwa satu kata semangat adalah sesuatu yang sangat berharga untuk sesama.

sampai jumpa lagi tahun depan, di kilometer yang sama, semoga dapat terselesaikan dengan lebih baik lagi.

OVER COT atau DNF merupakan sebuah keberhasilan yang tertunda. pelajaran untuk lebih memanajemen tubuh agar lebih baik lagi. bukan sebuah kegagalan untuk menyerah begitu saja.

sampai jumpa kembali Bromo Tengger Semeru Ultra 100 tahun 2017.

#marilari

#mariberbagi

img_20161106_190922
Hasil 70 kilometer 18 jam 30 menit

terima kasih banyak untuk :

keluarga besar indorunners bandung

dan semua teman teman yang sudah mendoakan

dan semua teman teman yang sudah meluangkan sedikit partisipasinya untuk berbagi dalam donasi  :

berlari untuk anak indonesia

#marilari

dalam tulisan kali ini saya tidak banyak menampilkan foto jalur ataupun foto yang lainnya, karena sepanjang jalur semeru saya rasa sudah terlalu sering berfoto disana, sedangkan di jalur lain kondisi tidak memungkinkan untuk mengambil foto karna malam hari dan trek yang cukup waw menegangkan. silahkan kalian bayangkan sendiri jalur jalur yang saya lewati atau mari kita coba bersama sama di BTS tahun depan.

salam sayang~

fb_img_1478396041636

siapa tau agak penasaran bisa diklik :

sedikit foto dan video selama lelarian

jalur 70 K

jalur ngesot ngesot bahagia ada disini

 

Tinggalkan Balasan