Merbabu, akan tuntas pada waktunya.

…. setelah menyelesaikan pekerjaan di kota gudeg jogja , saya segera kembali ke penginapan untuk melakukan persiapan…..

2015 adalah tahun yang cukup intens untuk saya untuk melakukan pendakian gunung. setelah sebelumnya dengan kondisi yang masih hidup di luar pulau , saya lebih sulit lagi melakukan perjalanan / pendakian gunung, dikarenakan harus amat sangat merencanakan dan mengarrange perjalanan saya dari jauh jauh hari. selain harus mempersiapkan cuti panjang, juga harus mempersiapkan biaya perjalanan udara yang cukup menguras biaya.

Kali ini, kerir yang saya bawa bukan hanya sekedar membawa baju dan perlengkapan kantor. kerir yang saya gunakan sedikit ditambah bebannya oleh peralatan pendakian. seperti biasa, perjalanan dinas yang sering tidak terduga duga, membuat saya sering melakukan perjalanan yang tidak terduga duga juga.

mumpung sedang di kota gudeg, saya pun sekaligus melakukan perjalanan ke salah satu gunung di jawa tengah. yap tepat nya merbabu!

bantul , maret 2015.

jam menujukkan pukul 13.00, setelah menunggu teman selesai shalat jumat, saya pun di jemput oleh salah satu adik adikan saya di jogja. sudah saya anggap adik sendiri, sudah cukup lama kenal dan beberapa kali traveling sama sama di jogja.

motor di arahkan ke daerah amplas alias ambarukmo plaza. salah satu jalan yang bisa memuat 2 mobil, bisa dibilang jalan utama menuju kampus UIN yogyakarta.

motor terhenti di salah satu rumah dengan halaman yang cukup luas untuk parkir motor. dengan sebuah plang kayu yang menggantung di atas pagar , djeladjah coffee – yang sekarang sedang break – .

suasananya klasik saat masuk ke dalam , dengan musik indie yang sayup sayup terdengar , lalu lampu yang agak sedikit temaram. siang menuju sore itu , warung kopi belum buka, masih sekedar persiapan didapur.

hari semakin sore , lalu kami melakukan persiapan. seperti biasa, bongkar tutup kerir. sambil ngobrol ringan dengan si empunya warung , yang sepertinya “mas mas pendaki” banget dan sangat fasih perihal ilmu kegunungan.

dengan diakhiri secangkir kopi -apa entah saya lupa- dan sepiring nasi tuna panas, malam itu kami berangkat menuju basecamp selo. beberapa motor melaju melewati jalan magelang, lalu lurus dan berbelok belok, hari semakin malam.

sekitar pukul 23.45 setelah melewati tanjakan terkahir di jalan menuju basecamp, kami pun tiba di basecamp selo.

udara dingin langsung menyapa tubuh, walaupun jaket yang saya gunakan sudah cukup hangat.

dua teman tetiba sudah sampai terlebih dahulu di basecamp selo, sepasang pejalan yang melawan yang banyak memiliki pergerakan di komunitas jogjakarta.

tidak lama seteleh bertegur sapa, mereka ternyata memutuskan untuk trekking malam itu juga. lalu kami yang baru sampai, sedikit bebenah untuk berbaring sebentar sambil menunggu pagi.

img_9397
kulkas pendaki 😀
img_9398
mukeee , hahaa.

basecamp selo, pak parman, menuju pagi.

suara riuh ramai semakin menjadi jadi dini hari. ternyata semakin banyak rombongan pendaki yang datang. basecamp pak parman lambat laun jadi ramai.

pagi itu kami mengawali mandi pagi dengan air khas kaki gunung yang dingin. tanpa antrian panjang tentunya karna kebanyakan masih terlelap bahkan malas untuk mandi. secangkir teh hangat dan sebungkus nasi rames. lalu seperti biasa, tidak lupa kami mengecek perlengkapan kembali.

sekitar jam 8 pagi itu kami memulai perjalanan. seperti biasa kali itu saya menjadi wanita setengah pria, alias wanita satu satunya dalam tim.

sedikit mengulas tentang -jika kamu menjadi satu satunya wanita dalam tim pendakian-

menjadi wanita satu satunya dalam sebuah tim pendakian, katanya bisa dibilang keren, . berada diantara pria pria tangguh yang mendaki, dan menjadi satu-satunya, otomatis ternilai keren dan tangguh juga dong.

jangan merasa keren saat menjadi wanita satu satunya dalam sebuah tim pendakian. secara mental dan fisik tentunya wanita memiliki sisi kesensitifan yang lebih tinggi dibanding pria. sisi fisik yang sedikit kuat banyak lemahnya di banding pria. disini dibutuhkan sisi ke-survival-an untuk diri sendiri disaat menjadi wanita satu satunya dalam sebuah tim pendakian.

walaupun hanya satu satunya, jangan pernah merasa ingin di istimewakan oleh tim pria. disini, kita jangan terlalu menggantungkan nasib kasarnya. kita harus bisa mandiri, mulai dari pembagian beban logistik, dan juga lain lainnya. dan jangan juga karena istimewa sebagai satu-satunya wanita dalam tim menjadi sebuah hambatan bagi tim.

sebagai wanita satu satunya dalam sebuah tim, kita harus bisa diajak bekerja sama dengan baik dan sesaat kita harus bisa beradaptasi dengan kegesitan tim yang notabene pria .

dan yang perlu di ingat , hindarilah sifat manja jika kamu menjadi satu-satunya wanita dalam tim pendakian 🙂

merbabu, via selo. tanjakan konstan, hujan, kabut dan bebatuan.

img_9413
merbabu via selo

lalu pagi itu kita berjalan santai, kali itu viant teman kami sebagai leader dalam tim.  jalur yang diberikan tidak seperti biasanya. kali ini viant membawa kami melewati jalur yang biasa di pakai evakuasi atau jalur sar. otomatis kita tidak melawati beberapa pos. kecuali pos 1 saja. pos 2 dan pos 3 tidak kami lewati pagi menuju siang itu.

siang itu kabut perlahan turun, hujan gerimis, jalur yang kita lewati sepi. hanya tim kita saja yang melewati jalur tersebut. lalu beberapa saat kemudia setelah tanjakan, terdengar suara beberapa orang di belakang kami. ternyata ada beberapa pendaki lain yang melewati jalur yang sama. mungkin karna memang jalur konvensional agak padat oleh pendaki pendaki yang saat itu bersamaan naik -karna itu weekend-.

img_9504
tim belakang, yang akhirnya sampai saat ini jadi teman kami mbak frizka 🙂
img_9437
jalur evakuasi / sar merbabu , kabut tipis
img_9426
jalur menuju pos 3 – watu tulis – kabut –

sekitar jam 2 siang kita sampai di Pos 3 Watu tulis . Pos watu tulis adalah pemberhentian kita sebelum melanjutkan pendakian. jalur selanjutnya melalui tanjakan setan , setiap gunung pasti punya ya. kenapa tanjakan setan? biasanya disebut begitu karna tanjakan yang curam dan cukup panjang, cukup ngos ngosan juga naiknya haha.

siang itu cuaca di Pos Watu Tulis berkabut, tapi kadang-kadang kabut perlahan menghilang berganti kecerahan yang begitu singkat.

seperti biasa, dalam setiap pendakian selalu ada kejutan. lagi lagi , kali ini si kutu loncat – sebut saja begitu – ternyata sedang mendaki merbabu juga.

memang sebelumnya saya mendengar bahwa teman saya tersebut akan mendaki merbabu, tapi entah kapan dan kita belum sempat kabar kabaran.

DCIM103GOPRO
si kutu loncat dengan tongkat go pro kesayangannya

dari jauh penampakan si mas kutu loncat sayup sayup terlihat. seperti biasa dengan gayanya yang slengean, dengan sepatu nike atau reebok nya yang selalu dia gunakan setiap pendakian dan selalu tanpa kaos kaki , hmmm nyaman katanya hahaha. tapi kali ini dia sudah tidak menggunakan tas natgeo traveler nya lagi seperti pertemuan pertama kali waktu trip dieng – prau. kali ini dia sudah lebih oke dengan tas deuternya yang agak kotor khas khas pendaki, pejalan, atau traveler. hahaa.. damai mas~ tapi masih khas dengan kaos putih yang sering dia balik balik kalo dipake , dan dengan ikat kepala khas sade…

“ahhhh. kan naik ga bilang bilang…” begitu ujarnya saat bertemu di Pos Watu Tulis. sayang nya ketika saya naik rombongan dia akan turun. dan otomatis kita tidak melakukan pendakian bersama.

akhirnya kami berpisah di Pos Watu Tulis. saya melanjutkan pendakian, dan teman saya melanjutkan pendakian turunnya.

sebentar lagi Sabana 2. angin sudah mulai terasa semakin kencang. tanjakan yang harus kita lewati tidak main main. trek berbatu yang agak licin sangat mengharuskan kita untuk lebih berhati-hati. memilih jalur, pindah kanan kekiri, dan mencari pijakan dan pegangan yang pasti agar tidak terpeleset.

“duh ampun ini tanjakan panjang amat yaaa..curam juga..” ujar saya dalam hati.

tidak terasa tanjakan hampir habis. lelah, nafas sudah mulai tidak teratur dengan beban yang lumayan berat di punggung.

sesaat saya beristirahat dan membalikan badan memandang jalur yang barusan saya tapaki. tanjakan curam, tajam, licin, penuh batu, melelahkan tetapi hadiah yang kita dapat kan setelahnya adalah ….

dscf4594
view merapi dari merbabu

merapi yang sayup sayup terlihat, begitu dekat jaraknya dengan posisi saya beristirahat. merapi dan merbabu memang saling bersebrangan. jika dari merapi kita bisa melihat view merbabu begitu juga sebaliknya, jika dari merbabu kita bisa melihat view merapi yang begitu cantik, runcing, sebekas penginggalan letusan beberapa tahun lalu.

seketika lelah saya hilang begitu saja. view sore itu begitu cantik, kami menambah waktu untuk berhenti sekedar mengabadikan pemandangan menuju sore, jadi pengen muter lagunya mas is deh , “harum mawar ditamaaann, disore itu ku menuju senjaaaa, bersamaaaa..” .. heup ah baper hahaa.

Sabana 2 – Merbabu

sore itu angin bertiup semakin kencang. sampai sudah kita di Sabana 2. tempat paling enak untuk membangun tenda. segera kami keluarkan peralatan kami dari kerir. dan kita mulai membangun tenda. walaupun belum malam, angin kencang, udara dingin, terus menyapa tubuh secara perlahan.

setelah tenda selesai dibangun, masih ada beberapa waktu lagi untuk menikmati senja di Sabana 2.

ohhh.. betapa beruntungnya kami. di depan tenda kami yang mengarah ke arah Gunung Lawu terbentang Pelangi tipis.

ahh.. beruntungnya saya, beberapa kali melakukan pendakian saya selalu bertemu pelangi seperti di merapi waktu itu.

subhanallah , indahnya melakukan perjalanan mendaki gunung ya seperti ini. walaupun sebenarnya di kota pun kita bisa mendapatkan pelangi yang terkadang muncul sehabis hujan. tetapi rasa rasanya pelangi di atas gunung seperti ini lebih indah dari pelangi dikota, lebih syahdu.

beberapa kali saya mengucap syukur dalam hati, masih bisa menyaksikan keindahan-Nya dari jarak yang begitu dekat,

dscf4651
Pelangi di Sabana 2
dscf4665
senja di Sabana 2 Merbabu – Maka Nikmat Tuhan Mana Lagi Yang Mau Kau Dustakan

setelah puas menikmati senja , kami langsung masuk ke tenda. kebetulan malam itu gerimis, angin semakin kencang. perut sudah mulai keroncongan.

di gunung, peran wanita kali ini selalu di gantikan oleh pria. ya, di gunung giliran para laki laki cekatan yang melakukan persiapan masak memasan, goreng menggoreng, tumis menumis.

“kita mah tinggal napas aja, betul ga teh … ” ujar hera.

malam itu menu kami sederhana, mie goreng, nasi goreng dan beberapa gorengan nugget serta racikan sambal cengek favorit saya dan hera yang notabene orang sunda yang doyan pedes.

img_1948
nasgor cengek

kami pun satu per satu menyelimuti tubuh dengan sleeping bag masing-masing setelah kenyang makan malam. gerimis masih terus terdengar di luar tenda. angin pun masih tetap kencang kencang tipis. satu per satu dari kami pun terlelap.

Pagi, Sabana 2 – Puncak Kenteng Songo

jam 5 subuh, menunaikan shalat subuh lalu keluar tenda. seperti biasa ritual pagi adalah persiapan menuju puncak.

sesaat saya mengeluarkan kepala keluar tenda, memandang ke arah puncak yang masih tertutup awan putih dan agak mendung. gerimis masih ada sedikit-sedikit.

“teh muncak gak ? sayang loh masa udah sampe sini ga muncak.” ucap hera yang sudah lebih sering mendaki ke merbabu karna hera kuliah di jogja.

“kayanya gak deh neng, masih cedeum juga, nanti di puncak view nya samar samar juga.” ucap saya kepada hera.

pagi itu beberapa teman melanjutkan perjalanan ke puncak, Puncak Kenteng Songo tentunya dengan barang-barang yang di tinggal di Sabana 2.

berbeda halnya dengan saya, saya hanya menikmati pagi di Sabana 2 saja.

berjalan sedikit ke arah kanan dari tenda, saya menemukan pemandangan yang -mungkin- tak kalah indahnya dengan pemandangan di puncak.

dscf4723
Lawu dan Mentari Pagi – view dari Sabana 2

mentari pagi yang begitu indah muncul dari balik Gunung Lawu di sebrang sana.

sejenak saya menghela nafas, ah tidak perlu kepuncak saya masih bisa dapat view yang cantik begini.

dscf4732
catch the sunrise
dscf4758
silhouette

lalu saya dan hera berpindah posisi , mencari view lain. sebelah kiri tenda view yang kami dapat lawu dari jauh, dan sebelah kanan tenda view merapi dari dekat.

merapi yang cantik pagi itu, tenggelam oleh lautan awan putih. terbuka dan cerah kembali.

img_1985
view merapi pagi hari

ritual pagi kami, menikmati sunrise, dan view-view cantik yang di suguhkan oleh Tuhan secara free, diakhiri oleh sarapan pagi yang selalu lebih nikmat dari sarapan sarapan biasanya. sambil menunggu beberapa teman kami kembali dari puncak kami masak memasak sambil bercanda ala ala cah cah jogja yang diselingi candaan sunda yang kata mereka roaming, haha.

dscf4800
view dari Puncak Kenteng Songo – masih berkabut
dscf4827
Tulisan Namanya aja dulu haha
dscf4852
2940 mDpl
dscf4860
perjalanan kembali ke sabana 2 – masih berkabut

Perjalanan kembali ke Basecamp

pagi menuju siang kami segera melakukan persiapan setelah teman teman kami kembali dari puncak. cuacanya sudah mulai gerimis mengundang lagi. segera kami kemasi barang-barang dan perlengkapan, dikemas rapih kedalam kerir. sekitar jam 11 siang kami mulai turus ke basecamp, ditemani cuaca gerimis dan berkabut. dan kami sampai kembali ke basecamp pak parman sekitar jam 3 sore, disambut oleh mas mas bakso bakar yang sudah standby di gerbang utama. haha.

img_9889
view puncak yang masih berkabut
img_9927
face control haha
img_2052
dan semua kelaparan :))

pendakian kali ini memberikan pelajaran
bahwa dalam mendaki , 
puncak tidak selalu menjadi tujuan utama,
-walaupun notabene merupakan sebuah tujuan utama bagi sebagian orang-
puncak yang tidak berhasil didaki,
mengajarkan sebuah kenikmatan tersendiri dalam menikmati pendakian,
mengajarkan bahwa keindahan juga bisa didapatkan tanpa harus berekspektasi tinggi menggapai puncak,
mengajarkan bagaimana meredam ego untuk mengejar puncak demi keselamatan pribadi,
lalu puncak yang belum berhasil didaki, 
memberikan rasa penasaran untuk kembali mendaki,
lagi lagi bukan untuk mengejar puncak kembali,
tapi mungkin lebih kurang karena rindu mendaki,
itu saja, tidak banyak berekspektasi.
sekali lagi bahwa puncak  bukan segalanya, bukanlah sebuah keharusan dan tujuan utama,
tujan utama adalah bisa mendaki dengan happy dan kembali ke kehangatan rumah tanpa kurang suatu apapun.
mendakilah dengan persiapan fisik maupun mental,
mendakilah dengan safety.
selamat melakukan pendakian pendakian selanjutnya.

– salam – 

 

Tinggalkan Balasan